Pandawa Lima - Mahabarata
Pernah kenal pewayangan?? ..well jaman saya kecil kitab mahabarata seperti kitab wajib yang harus di baca selain alqur an tentunya..he.he maklumlah pada jaman itu masih sering nonton wayang kulit ma wayang golek…
so, mahabarata bisa di katakan hapal di luar kepala. termasuk karakter karakter di dalamnya .. sayang seni pewayangan kurang di kembangkan dan di gali kembali saat ini .. RA. Kosasih pengarang yang merupakan kebanggaan karena gambarnya bagus dan ceritanya enak di ikuti…banyak2 terima kasih lah.. soalnya jadi bisa membayangkan seperti apa cerita mahabarata itu
sebenernya banyak cerita pewayangan yang bagus tapi diantara yang bagus ini pandawa lima seperti google V yang sangat terkenal pada saat saya kecil .. jadi lah pandawa lima meruapakan jagoan dan jargon yang paling terkenal di antara saya…
berikut kilasan karakter dari pandawa lima :
Yudistira. Dikenal juga dengan nama Darmawangsa, Darmakusuma, Kantakapura, Gunatalikrama, Puntadewa, dan Samiaji. Yudistira
dianggap sebagai keturunan Dewa Keadilan, Batara Dharma. Ia adalah tipe
murni seorang Raja yang baik. Darah putih mengaliri nadinya. Ia tidak
pernah murka, tidak pernah bertarung, tidak pernah juga menolak
permintaan siapa pun, betapapun rendahnya sang peminta. Waktunya
dilewatkan untuk meditasi dan penghimpunan kebijakan. Senjata pusaka
Yudistira adalah Kalimasada yang misterius, naskah keramat
yang memuat rahasia agama dan semesta. Dia adalah cendekiawan yang
memerintah dengan keadilan dan kemurahan hati. Ia konon tidak memakai
perhiasan, kepala selalu merunduk sebagai tanda mawas diri, dan raut
muka bangsawan yang halus. Kelemahan Yudistira adalah judi.
Kelemahannya ini telah mengakibatkan dirinya dan adik-adiknya tertipu
dan dikalahkan dalam adu judi oleh Duryudana, Raja Hastina. Yusdistira
(dan Pandawa keseluruhannya) terpaksa menyerahkan negaranya dan
membuang diri ke hutan selama 13 tahun. Sewaktu perang Baratayudha, ia
berada di kereta perang bersama Kresna menemui Dorna. Bima yang telah
membunuh gajah Hastathama meneriakan suara Aswatama sehingga Dorna
mengira anaknya (Aswatama) telah mati. Agar strateginya berhasil,
Kresna membawa Yudistira ke medan perang dan memintanya mengatakan
bahwa Aswatama yang tewas oleh Bima. Akibat perbuatannya ini Yudistira
mendapat hukuman. Kereta perangnya yang semula dikaruniai kemampuan
melayang sejengkal di atas tanah, kini terpaksa harus turun menginjak
tanah. Selain itu, ia adalah satu-satunya kstaria yang berhasil
membunuh prabu Salya dari Mandaraka. Salya adalah ksatria tanpa tanding
dengan kesaktiannya aji Candrabirawa. Candrabirawa adalah raksasa yang
menetap di dalam tubuh Salya, dapat dikeluarkan dan diperintah sesuka
pemiliknya. Tidak ada yang dapat membunuh Candrabirawa kecuali
pemiliknya mati. Oleh karenanya Kresna membawa Yudistira untuk
bertarung dengan Salya. Salya sebenarnya enggan berperang dengan
Yudistira karena ia tahu Yudistira adalah titisan Batara Dharma. Semua
anak panah Salya tidak ada yang sanggup mengenai Yudistira. Ia kemudian
menantang Yudistira untuk menyerangnya. Satu anak panah Yudistira yang
diarahkan ke tanah memantul ke arah Salya dan menembus jantungnya.
Yudistira menikahi Drupadi dan mempunyai satu putra bernama Pancawala
yang tewas oleh Aswatama yang membalas dendam kematian Dorna.
Bima. Nama lainnya adalah Bratasena,
Senoaji, atau Werkodara. Ia dikenal sebagai Pandawa yang bertubuh
tinggi besar, memiliki kuku sakti Pancanaka dan dalam beberapa
ilustrasi pewayangan mengenakan kalung ular dan bersenjatakan gada Rujakpala.
Sewaktu kecil, kulit Bima terbungkus sejenis “membran” sehingga
menimbulkan hawa panas yang mengganggu para makhluk halus di hutan
Mandalara, tempat main Bima kecil. Oleh karenanya Batara Guru kemudian
mengutus Betari Durga untuk melengkapi Bima dengan kain poleng bang bintulu, kelatbahu, gelang candrakirana, kalung nagabanda, dan pupuk jarot asem.
Setelah Betari Durga memasang semua kelengkapan tersebut, Gajah Sena
turun diutus oleh Betara Guru untuk memecah “membran” yang membungkus
kulit Bima. Gajah Sena adalah putra Gajah Erwata yang mencari
kesempurnaan di Kahyangan. Gajah Sena berhasil membuka kulit tersebut,
namun ia tewas oleh Bima dan tubuhnya menyatu ke dalam Bima. Begawan
Sapwani kemudian mengambil sisa “membran” Bima dan memantrainya
sehingga menjadi seorang ksatria bernama Jayadrata. Sewaktu remaja ia
pernah dibuat mabuk oleh Kurawa dan dibuang ke sumur Jalatunda yang
penuh ular. Ia diselamatkan Begawan Badawanganala yang memberinya
kesaktian anti racun. Sewaktu para Pandawa diajak pesta mabuk oleh
Kurawa, hanya Bima yang tidak mabuk. Ketika kurawa membakar tempat
peristirahatan pandawa, maka Bima seorang diri mengangkat keempat
saudaranya dan ibunya menyelematkan diri ke sebuah terowongan yang
menuju ke kayangan Saptapertala. Ia kemudian menikah dengan putri Sang
Hyang Antaboga (penguasa dunia bawah tanah), Dewi Nagagini, dan
memiliki anak Antareja. Sewaktu kembali ke Astina rombongan Pandawa
melalui hutan Pringgandani kekuasaan raja Arimba. Arimba meminta Bima
menikah dengan adiknya agar mereka boleh melalui hutan ini, namun Bima
melecehkan Arimba. Mereka bertarung sehingga Arimba tewas. Dewi Kunti,
ibu para Pandawa, kemudian memantrai Arimbi, adik Arimba, agar menjadi
cantik dan menikah dengan Bima. Bima kemudian memiliki putra bernama
Gatotkaca. Bima kemudian disuruh Dorna mencari air suci tirta perwitasari di
tengah samudra. Ia di tengah laut diselamatkan oleh Dewa Rutji yang
memberinya pengetahuan dan kebijaksanaan mengenai air kesucian yang
mengalir di dalam hati (perwitasari). Ia kemudian menikah
dengan Dewi Urang Ayu, putri Batara Baruna, dan memiliki anak Antasena.
Selama perang Baratayudha, Bima dan Arjuna diandalkan oleh Kresna untuk
berhadapan dengan guru-guru mereka, Dewabrata dan Dorna, karena para
perwira Pandawa banyak yang gugur di tangan mereka berdua. Bima banyak
menewaskan Kurawa di medan perang, termasuk menghirup darah Dursasana
dan mengalahkan Duryudana di perang terakhir antara Pandawa dengan
Kurawa.
Arjuna. Ia dikenal sebagai anggota Pandawa yang
rupawan dan sakti mandraguna. Ia juga dikenal dengan nama Janaka,
Dananjaya, Indraputra, dan Indrasuta. Ia dikenal sebagai kstaria yang
memiliki segudang pusaka dan wanita. Ia memakai kain limar ketanggi, memiliki panah Pasopati pemberian Betara Guru, panah Ardadedali dari Betara Kuwera, panah Cundamanik dari Betara Narada, panah Sangkali, Candranila, Sirsha, Kiai Sarothama, dan Naracabala, busur Gandiwa pemberian Betara Indra, terompet perang Devadatta yang dapat menghancurkan moral pasukan musuh, keris Kalanadah yang ia berikan ke Gatotkaca, cincin mustika ampal yang diambil dari lawannya Ekalaya, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni yang
diberikan ke Abimanyu, dan sejumlah pusaka lain yang menempel di
tubuhnya. Ia memiliki dua ekor kuda sakti yang diberikan dewata yakni
Argapuspa dan Puspagati. Arjuna menikah dengan Sumbadra dan memiliki
anak Abimanyu yang sangat ia sayangi. Arjuna menikah dengan Larasati
dan memiliki anak Sumitra dan Bratalaras. Ia menikah dengan Srikandi
namun tidak memiliki anak karena Srikandi tewas oleh Aswatama. Ia
menikah dengan Palupi dan memiliki anak Bambang Irawan. Ia menikah
dengan Jimambang dan memiliki anak Kumaladewa dan Kumalasakti. Ia
menikah dengan Ratri dan memiliki anak Bambang Wijanarko. Ia menikah
dengan Dresnala dan memiliki anak Wisanggeni. Ia menikah dengan
Wilutama dan memiliki anak Wilugangga. Ia menikah dengan Manuhara dan
memiliki anak Pergiwa dan Pergiwati. Ia menikah dengan Supraba dan
memiliki anak Prabakusuma. Ia menikah dengan Antakawulan dan memiliki
anak Antakadewa. Ia menikah dengan Juwitaningrat dan memiliki anak
Bambang Sumbada. Ia juga menikah dengan beberapa wanita lain namun
tidak memiliki anak. Arjuna mengalahkan raksasa Niwatakawaca yang ingin
menguasai Kahyangan untuk memperoleh berbagai pusaka tersebut di atas
dan menikah dengan 7 bidadari kahyangan. Arjuna berguru dengan banyak
resi dan belajar banyak ajian sakti namun ia sangat patuh kepada
Yudistira dan Kresna. Selama perang Baratayudha ia dijaga oleh Kresna
agar tidak bertemu dengan Karna selama ia memegang pusaka Konta (Wijayandanu).
Arjuna selalu ditempatkan sebagai panglima di tengah prajurit sehingga
tidak terlihat menonjol seperti Bima dan Gatotkaca yang berada di garis
depan. Akan tetapi ia dan Bima berperan penting untuk menghadapi Bisma
dan Dorna selama peperangan agar mereka tidak membunuh lebih banyak
para perwira Pandawa. Ia akhirnya membunuh Karna dengan Pasopati
setelah senjata Konta dipakai untuk melawan Gatotkaca.
Nakula dan Sadewa. Keduanya adalah putra kembar
dari Madrim, istri kedua Pandu. Sadewa dikenal memahami Astronomi dan
memahami masalah taktik logistik peperangan karena memiliki pengetahuan
tentang peternakan. Nakula memiliki ajian Pranawajati yang
membuatnya dapat mengingat peristiwa dan pelajaran yang diberikan.
Menjelang perang Baratayudha Kresna menyuruh Nakula dan Sadewa untuk
mengunjungi pamannya, Salya, guna mengetahui rahasia kelemahan aji
Candrabirawa. Mereka berdua membawa belati yang diserahkan ke Salya,
dan meminta Salya membunuh mereka saat itu juga karena dalam peperangan
Baratayudha tidak akan ada yang dapat mengalahkan Candrabirawa. Salya
yang terharu kemudian memberitahukan bahwa ia hanya dapat dibunuh oleh
Yudistira yang memiliki darah putih bangsawan dan titisan Betara
Dharma. Nakula kemudian menjadi raja Mandaraka menggantikan pamannya
Salya setelah perang Baratayudha usai, sedangkan Sadewa menjadi patih
di Hastina membantu Yudistira.